
Pasca PD I hingga tahun 1930an, kondisi perekonomian Jerman berada dalam keterpurukan. Tingkat pengangguran mencapai lebih dari 25% dari angkatan kerja. mata uang mereka saat itu bisa dibilang worthless. Kegiatan produksi dan entrepreneurship mangkrak karena masyarakat hampir tidak memiliki daya beli. Namun itu semua tidak memendam tekad Hitler untuk membangun kembali kekuatan militer Jerman dan mengembalikan kejayaan bangsa Arya (wooorrgh!). Sayangnya ambisi dia tersandung selain oleh masalah ekonomi, Jerman terikat perjanjian versailles yang membatasi kekuatan militenya, serta kebijakan pembatasan jumlah kredit yang bisa diambil oleh pemerintah. Untuk mengakali itu, pemerintah menempuh berbagai cara yang semuanya birisiko, dan beberapa diantaranya bisa dibilang tidak etis bahkan ilegal. Yang paling fenomenal adalah melalui sebuah scheme bernama MEFO Bills.
Apa itu Mefo Bill ?
Mefo Bill merupakan surat hutang yang diterbitkan oleh sebuah perusahaan abal2 bernama Mefo m.b.h. bikinan pemerintah Jerman pada tahun 1934. Kegiatan ini murni bertujuan untuk membiayai program Rearmament Hitler sebelum PD II. Mefo sendiri merupakan singkatan dari Metallugirsche Forschungsgesellschaft atau Perusahaan Riset Metalurgi, meski pada kenyataannya perusahaan ini tidak memiliki aktivitas apapun. Melalui perushaan ini, hanya dengan modal kerja satu juta RheichsMark (RM) pemerintah Jerman mampu membiayai persiapan perangnya tanpa terkendala masalah biaya.

Modus Operasi Mefo Bill adalah, perusahaan abal-abal ini membeli peralatan perang dari perusahaan-perusahaan manufaktur senjata yaitu Krupp, Rheinmetall, Siemens, dan Gutehofnungshutte. Pembelian dilakukan atas nama pemerintah, dan dibayarkan dengan note/wesel bayar. Wesel ini memiliki masa tenggang enam bulan dengan bunga 4% namun dapat diperpanjang sampai lima tahun dengan perpanjangan per tiga bulan. Wesel ini juga bisa dijadikan alat tukar layaknya uang biasa serta bisa dikonversikan menjadi kas (didiskontokan) melalui bank-bank di jerman, yang kemudian oleh bank-bank ini akan dirediskontokan pada Bank Sentral Jerman, Rheichsbank. wesel inilah yang dinamakan Mefo Bills. tercatat pada tahun 1939 Mefo Bills yang beredar di masyarakat memiliki nilai nominal sebesar 12 miliyar RM.
Bagaimana Dampaknya terhadap perekonomian Jerman ?
Sekilas, perekonomian Jerman terlihat sedang bergairah. Sejak penerbitan pertama pada agustus 1934, perusahaan2 jerman, terutama perusahaan manufaktur senjata, mendapatkan banyak pesanan setelah sekian lama menganggur. Hal ini mengakibatkan output industri tahun 1934 mengalami peningkatan sebesar 45,8% dari output tahun 1932. Pengangguran juga berkurang dari 28,1% pada tahun 1932 menjadi 13,8% pada tahun 1934. pertumbuhan GDB stabil di angka 8-10% selama enam tahun dengan inflasi yang relatif rendah, suatu kondisi ekonomi yang membuat direktur Bank Sentral di seluruh dunia mengalami mimpi basah.

Grafik pertumbuhan GDP dan Inflasi Jerman. terlihat dalam kurun waktu 1934-1938 terus mengalami tren peningkatan GDP yang tinggi dan Stabil dan inflasi yang cenderung menurun setelah mengalami deflasi gila-gilaan. bandingkan dengan Belanda yang saat itu kondisi ekonominya cenderung fluktuaktif. (sumber grafik: Erwan Mahe)
Pemerintah pun bisa mengakali perjanjian Versailles dan membiayai program rearmamentnya secara rahasia tanpa meninggalkan bukti tertulis. Karena semua peralatan itu dibeli oleh perusahaan bersatatus “swasta”, bukan negara.
no more unemployment ? High economic growth with low inflation ? yay! everyone happy! sounds cool right ?
well… no.
Tindakan ini memang membuat kondisi ekonomi Jerman diatas kertas terlihat menggairahkan. Namun kenyataannya Ekonomi Jerman berada pada posisi yang rentan dan bisa kolaps kapan saja. Pembiayaan Alat perang tadi dibayarkan bukan dengan duit, melainkan surat utang, yang mana utang tersebut tidak akan pernah bisa dibayar baik oleh pemerintah maupun oleh Reichsbank itu sendiri tanpa menimbulkan inflasi. Untuk mencegah banyaknya pendiskontoan wesel (mengkonversi wesel menjadi kas pada pihak ketiga dengan potongan yang telah ditentukan), Reichsbank berkali-kali memperpanjang tempo pembayaran dengan memberi insentif bagi pemegang wesel supaya mereka mau menahan weselnya lebih lama, biasanya dengan meningkatkan bunga wesel tersebut. Rheichsbank juga melakukan seleksi ketat pada semua wesel sehingga hanya wesel yang diterbitkan dalam rangka pembelian barang secara langsung saja yang bisa didiskontokan. Dan ketika jatuh tempo terakhir, Pemerintah Jerman tetap tidak membayar hutang yang mereka seperti yang dijanjikan, tapi malah mengkonversikannya menjadi obligasi jangka pendek.
Terus efeknya gimana… ?
Ingat, Wesel bayar ini dapat diperdagangkan dan ditransaksikan seperti aset setara uang, sehingga perusahaan yang kekurangan kas pun menggunakan wesel ini untuk membiayai kegiatan operasi dan investasi mereka, dan mulailah Mefo Bill beredar di masyarakat. Peredaran Mefo Bill ini menciptakan shadow currency, yaitu sejumlah besar aset non-kas yang beredar di masyarakat dan dijadikan alat tukar layaknya uang. hal inilah yang membuat inflasi Jerman kala itu terlihat jauh lebih rendah dari aslinya, karena porsi besar dari uang yang beredar tidak dalam bentuk Reichsmark, tapi dalam bentuk surat utang yang diterbitkan oleh perusahaan abal2. Sebagai perbandingan, menurut Overy (The Nazi Economic Recovery, 1932–1938, p. 43), Jumlah uang beredar di Jerman sebesar 23,7 Miliar RM pada tahun 1939. Di saat yang sama, Mefo Bill yang beredar dan menjadi Shadow Currency memiliki nilai 12 Miliar RM, lebih dari separuh nilai uang asli yang beredar di masyarakat. Bayangkan seberapa besar inflasi yang tersembunyi dengan sistem ini.
Hutang nasional juga terlihat jauh lebih rendah dari aslinya karena porsi besar utangnya berstatus utang swasta. Padahal itu adalah utang milik perusahaan abal-abal bikinan pemerintah Jerman, yang artinya utang MEFO m.b.H. adalah utang pemerintah Jerman. Sebagai gambaran, nilai obligasi pemerintah Jerman pada tahun 1939 bernilai 19 Miliar RM, sedangkan Mefo bill yang masih beredar senilai 12 Miliar RM. Jadi, sekitar 38,71% hutang pemerintah Jerman kala itu tidak terdeteksi karena berstatus hutang swasta. Dengan kata lain, sistem manipulasi ini membuat kondisi perekonomian Jerman terlihat jauh lebih baik dari yang sebenarnya. Masyarakat juga tidak menyadari seberapa parah kondisi ekonomi mereka dan bahwa kegiatan ekonomi mereka ditopang oleh surat hutang yang tidak berharga.
Lho, lho, lho.. apa Pemerintah saat itu tidak memikirkan dampak dari kebijakan mereka ? terus kenapa bank sentral mau2nya memfasilitasi tindakan manipulasi seperti ini ? idenya siapa sih ini ?
Adalah Hjalmar Schacht yang merupakan otak dibalik kebijakan Mefo bill ini. Dia merupakan direktur Bank sentral jerman waktu itu. Jadi alasan kenapa bank sentral mau2nya memfasilitasi scheme ini, ya… biangnya aja dirut mereka sendiri :p.

Ini lho bandarnya
Berdasarkan pengakuan dari Hjalmar Schacht sendiri dalam memoarnya yang berjudul “The Magic of Money”, pada awalnya rencana Schacht melalui program ini adalah merangsang jalannya roda perekonomian dari sektor petahanan. Ketika ekonomi sudah berjalan dan pendapatan meningkat, pemerintah akan membayar hutang itu melalui penarikan pajak pendapatan.
“When the MEFO system was introduced I fully expected that the
revitalisation of the economy would result in such progress in the
growth of incomes and in capital formation that repayment would
be made possible by growth in taxation yield together with loans.” (Schacht, 1967: 114-115)
Sayangnya menurut Schacht, ambisi Hitler dalam program Rearmamentnya merusak rencana itu, pemerintah terus menerbitkan Mefo Bill hingga pada level di mana Reichsbank dan negara berada dalam posisi rentan jika diteruskan. Karena merediskonto wesel sebanyak itu dapat menimbulkan inflasi yang tidak terkontrol. Pemerintah Jerman juga akan semakin kesulitan dalam membayar hutangnya ketika jatuh tempo nanti. Kemudian, banyaknya pesanan barang dari pemerintah ketika kapasitas produksi negara mencapai titik maksimum (full employment) juga akan menimbulkan kenaikan tingkat harga atau demand-pull inflation.
Pertanda buruk mulai dapat dilihat pada tahun 1937 ketika tingkat harga mulai naik dan pengangguran menjadi sangat sedikit sampai-sampai para pelaku usaha saling berebut tenaga kerja. Kondisi ekonomi saat itu berada pada posisi full employment dan mulai mengalami overheating. Sehingga setiap penambahan stimulus ekonomi semacam Mefo Bill dll. tidak akan berpengaruh pada kenaikan output, melainkan hanya menyebabkan kenaikan tingkat harga. Sampai akhirnya pada 1937, setelah perdebatan alot dengan sang Fuhrer, Schacht memutuskan untuk menunda penerbitan Mefo Bill lebih lanjut ketika nilai Mefo Bill yang beredar mencapai 12 Miliar RM.
“In 1937 the first price increases became evident, and full employment
had nearly been achieved. Employers began to compete
with each other for workers. In the beginning of 1937 I therefore
informed Hitler that I would be suspending the MEFO credits.
A long-drawn-out dispute ensued. I threatened to resign from my
post as President of the Reichsbank if Hitler did not sanction my .
proposed action. A compromise was reached, whereby I would
continue in office for another year, that being conditional upon the
suspension of the MEFO credits once they had reached a total
volume of 12.milliards. Hitler agreed, and kept his word.” (Schact, 1967: 114)
Masalah mencapai puncaknya pada tahun 1939. Hitler memberi instruksi pada mentri keuangan saat itu untuk tidak membayar Mefo Bill senilai tiga miliar RM yang telah jatuh tempo. Hitler juga terus menambah pesanan produksi peralatan perang meskipun dia sadar pemerintah sudah tidak sanggup melunasi hutang-hutangnya. Melihat kondisi ini, Rheichsbank pun memutuskan untuk menghentikan bantuan kredit pada pemerintah. Hal ini berujung pada pemecatan Schacht oleh Hitler. Tak lama kemudian Hitler mengeluarkan dekrit yang memerintahkan Reichsbank untuk memberikan semua kredit yang dibutuhkan oleh pemerintah. Dan hutang-hutang dari Mefo bill yang telah jatuh tempo diinstruksikan untuk dilunasi melalui percetakan uang. Akibatnya sudah bisa dipastikan, Jerman mengalami inflasi besar-besaran sebelum memulai PD II. Mentri keuangan sang Fuhrer pun mendapat tugas untuk mengumumkan kebangkrutan pemerintah.
Jadi, Kesimpulannya adalah…
Pada dasarnya yang dilakukan Schacht dan jajaran pemerintahan Hitler sebenarnya tidak lebih dari kebijakan Ekspansif baik dari Sektor Fiskal maupun Moneter. Yaitu dengan dilakukannya usaha Defisit anggaran (melalui penerbitan Mefo Bills) dan memperbanyak percetakan uang (melalui penukaran dan perputaran Mefo Bills) secara rahasia melalui mekanisme yang bisa dibilang cukup kompleks. Dengan mekanisme ini, Jerman pada saat itu mampu mengakali berbagai peraturan-peraturan yang membatasi kebijakan anggaran mereka. Akan tetapi Schacht dan Hitler memiliki visi yang berbeda dari sistem ini. Schact memandang ini sebagai cara untuk menyelamatkan kondisi ekonomi Jerman yang terus memburuk sedangkan Hitler memandang sistem ini seperti ajang “ngeborong senjata gratisan”. Perbedaan perspektif ini menjadi salah satu faktor yang membuat sistem mefo bills berakhir dengan menghancurkan sistem ekonomi Jerman itu sendiri. They try to fuck the system and ended up getting fucked by it.
Wallahu a’lam bishawab.
REFERENSI :
[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Mefo_bills
[5] Schacht, Hjalmar. 1967. “The Magic of Money”. Translated to English by Paul Erskine. Oldbourne Book. London.
[6] Overy, R.J. 1996. “The Nazi Economic Recovery 1932-1938”. Cambridge University Press. Cambridge.